Artikel #6 : Cara Menggunakan Gen AI untuk Menyusun Aktivitas Pembelajaran yang Selaras dengan Tujuan Pembelajaran
Pendahuluan
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, tantangan berikutnya adalah menyusun aktivitas pembelajaran yang benar-benar mengarah pada tujuan tersebut. Dalam praktik di lapangan, aktivitas belajar sering kali bersifat rutin dan berulang, seperti membaca, mencatat, dan mengerjakan soal, tanpa kejelasan hubungan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Gen AI dapat membantu guru menghasilkan variasi ide aktivitas pembelajaran. Namun, tanpa penyaringan dan refleksi dari guru, aktivitas yang dihasilkan berisiko tidak relevan dengan konteks kelas. Artikel ini membahas bagaimana guru dapat menggunakan Gen AI sebagai mitra berdiskusi untuk menyusun aktivitas pembelajaran yang selaras dengan tujuan, sekaligus tetap manusiawi.
Mengapa Aktivitas Pembelajaran Sering Tidak Selaras?
Beberapa permasalahan umum yang sering terjadi antara lain:
Aktivitas disusun sebelum tujuan pembelajaran jelas.
Aktivitas dipilih karena kebiasaan, bukan kebutuhan belajar.
Kurangnya waktu guru untuk merancang variasi aktivitas.
Aktivitas terlihat aktif, tetapi tidak mengarah pada capaian kompetensi.
Kondisi ini membuat pembelajaran terasa monoton dan kurang bermakna bagi peserta didik.
Prinsip Menyusun Aktivitas Pembelajaran yang Selaras
Sebelum memanfaatkan AI, guru perlu berpegang pada prinsip berikut:
Keselarasan (Alineasi): Aktivitas harus mengarah langsung pada tujuan pembelajaran. Artinya, setiap langkah dalam proses belajar harus memiliki kontribusi nyata terhadap pencapaian kompetensi yang diharapkan. Guru perlu memastikan tidak ada "lompatan logika" antara apa yang dilakukan siswa dan apa yang ingin dicapai.
Contoh: Jika tujuannya adalah agar siswa mampu "menganalisis struktur teks berita", maka aktivitasnya bukan sekadar menyalin berita, melainkan membedah unsur adiksimba (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana) dan mengelompokkan bagian teks ke dalam struktur piramida terbalik.
Diferensiasi: Aktivitas perlu mempertimbangkan karakter, minat, dan kesiapan peserta didik yang beragam. Pembelajaran tidak boleh bersifat one-size-fits-all (satu ukuran untuk semua). Guru perlu menyediakan jalur atau moda yang berbeda agar setiap siswa memiliki peluang yang sama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Contoh: Untuk tujuan "memahami siklus air", siswa yang memiliki kecenderungan visual dapat diminta membuat infografis, siswa yang senang kinestetik dapat melakukan simulasi/eksperimen sederhana, dan siswa yang unggul dalam verbal dapat menyusun narasi cerita tentang perjalanan setetes air.
Realistis: Variasi aktivitas memang penting untuk menjaga motivasi, namun harus tetap mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, waktu, dan kapasitas operasional sekolah. Guru harus mampu membedakan antara ide yang "terlihat bagus di atas kertas" dengan apa yang benar-benar bisa dijalankan di ruang kelas tanpa menimbulkan kelelahan berlebih bagi guru maupun siswa.
Contoh: Untuk tujuan "memahami sejarah lokal", AI mungkin menyarankan aktivitas kunjungan lapangan ke museum di luar kota. Namun, jika terkendala biaya dan waktu, guru bisa memodifikasinya secara realistis dengan melakukan "tur virtual" menggunakan Google Earth atau mengundang tokoh masyarakat setempat sebagai pembicara tamu di kelas.
Agensi Guru: Guru tetap memegang kendali penuh atas keputusan pembelajaran. Meskipun AI dapat memberikan ribuan saran, gurulah yang paling memahami dinamika psikologis, emosional, dan sosial di kelasnya. Guru berperan sebagai kurator dan desainer yang menyaring ide-ide AI agar tetap sesuai dengan norma, etika, dan nilai-nilai pendidikan.
Contoh: Saat AI menyarankan metode "debat terbuka" untuk topik yang sensitif, guru yang memiliki agensi akan menilai apakah kondisi mental siswanya siap atau apakah debat tersebut justru akan memicu konflik. Jika dirasa tidak tepat, guru bisa mengubahnya menjadi aktivitas "menulis refleksi pribadi" yang lebih aman bagi kesejahteraan emosional siswa.
Peran Gen AI dalam Menyusun Aktivitas Pembelajaran
Gen AI dapat membantu guru dengan cara:
Memberi alternatif ide aktivitas pembelajaran.
Membantu memetakan aktivitas ke tujuan pembelajaran.
Menawarkan variasi pendekatan belajar.
Namun, AI tidak dapat menilai dinamika kelas dan keterbatasan waktu secara akurat. Oleh karena itu, hasil AI harus diposisikan sebagai bahan diskusi, bukan instruksi.
Langkah-Langkah Menyusun Aktivitas Pembelajaran dengan Bantuan Gen AI
1. Menetapkan Tujuan Pembelajaran sebagai Acuan Utama
Guru memastikan bahwa tujuan pembelajaran sudah jelas and operasional. Aktivitas yang baik selalu berangkat dari tujuan, bukan sebaliknya.
2. Mengajak AI Berdialog untuk Mencari Alternatif Aktivitas
Guru dapat meminta AI mengusulkan beberapa aktivitas yang mendukung tujuan pembelajaran. Hasilnya biasanya berupa daftar ide yang masih umum. Gunakan prompt yang spesifik (seperti menyebutkan jenjang dan mata pelajaran) agar ide yang dihasilkan tidak terlalu umum dan lebih aplikatif.
3. Memilah Aktivitas yang Relevan
Guru menyeleksi aktivitas dengan pertanyaan reflektif:
Apakah aktivitas ini membantu siswa mencapai tujuan?
Apakah aktivitas ini sesuai dengan kondisi kelas?
Apakah aktivitas ini dapat dilakukan dalam waktu tersedia?
4. Menyesuaikan Aktivitas dengan Konteks Nyata
Guru menyesuaikan aktivitas terpilih agar:
Tidak terlalu kompleks.
Tidak membebani peserta didik.
Tetap bermakna dan kontekstual.
5. Menyusun Alur Aktivitas Pembelajaran
Aktivitas disusun secara runtut, dari kegiatan awal, kegiatan inti, hingga refleksi. AI dapat membantu menyusun urutan, tetapi guru memastikan alur tersebut sesuai dengan ritme kelas.
Contoh Penerapan Sederhana
Seorang guru mendapati bahwa aktivitas pembelajarannya sering tidak variatif. Dengan bantuan AI, guru meminta alternatif aktivitas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tertentu. Dari beberapa ide yang diberikan, guru memilih dan memodifikasi aktivitas yang paling realistis and sesuai dengan karakter siswanya.
Hasilnya, aktivitas pembelajaran menjadi lebih terarah dan tidak lagi monoton. Sebagai contoh, aktivitas yang semula hanya berupa ceramah guru dimodifikasi menjadi simulasi peran yang interaktif bagi siswa, meskipun tetap dalam kerangka yang sederhana.
Menjaga Aktivitas Pembelajaran Tetap Manusiawi
Aktivitas pembelajaran bukan sekadar rangkaian tugas. Di dalamnya terdapat interaksi, emosi, dan pengalaman belajar peserta didik. AI tidak mampu menangkap dinamika tersebut. Oleh karena itu, guru perlu memastikan bahwa aktivitas pembelajaran:
Memberi ruang interaksi.
Menghargai perbedaan kemampuan.
Mendorong keterlibatan aktif peserta didik.
Penutup
Gen AI dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam menyusun aktivitas pembelajaran, selama digunakan secara kritis and reflektif. Dengan menempatkan AI sebagai asisten dan guru sebagai pengambil keputusan utama, aktivitas pembelajaran dapat disusun lebih variatif, selaras dengan tujuan, dan tetap manusiawi.







No comments:
Post a Comment